Selayang Pandang
Pendidikan berjalan bersama
jamannya, berjalan bersama kehidupan masyarakat yang terus berkembang pula.
Pendidikan dalam perjalanannya tak bisa mengelak dari problem-problem yang
terus bermunculan menghadangnya. Problem-problem itu berbeda dalam kadarnya,
dan pada gilirannya problem-problem itu berbeda dalam penanganannya, ada yang
bisa cepat diatasi, ada pula yang butuh waktu lama serta ada yang meminta
pertolongan pada pihak lain, pihak filsafat pendidikan. Permintaan tolong pada
filsafat pendidikan itu sebuah kewajaran karena problem yang dihadapi pada
dasarnya bukan lahan atau kapling pendidikan melainkan lahan garapan filasafat
pendidikan. Filasafat pendidikan suatu ilmu yang membahas bidang pendidikan
secara filosofis. Filsafat pendidikan pun merupakan suatu jawaban filosofis
terhadap pertanyaan yang filosofis dalam dunia pendidikan.
Hakikat
pendidikan, isi, tujuan dan kebijakan dalam dunia pendidkan menjadi lingkup
kajian filsfat pendidikan. Untuk itu filsafat pendidikan memiliki peranan dan fungsi
yang strategis dalam dunia pendidikan. Sedang metode-metode untuk mengkajinya
perlu mempertimbangkan relevansinya. Metode studinya terdapat metode
rasionalistik, metode empirik, metode intuisi, metode reflektif, metode
historis, dan metode analisis sintetis serta hermeneutika. Sementara pendekatan
yang digunakan filsafat pendidikan dengan berkiblat pada ajaran filsafat dan
pendidikan. Aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi menjadi teropong aspek
dalam mengkaji bidang pendidikan sehingga bisa melihat tentang hakekat, proses
dan nilai guna pendidikan.
Selain
mengkaji pendidikan secara ontologi, epistemologi dan aksiologi, tulisan ini
juga mengusung aliran-aliran atau mazhab-mazhab filsafat pendidikan; yakni
idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, progresivisme, esensialisme,
perenialisme, eksistensialisme, rekontruksionisme, dan konstruktivisme.
Aliran-aliran tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam memandang
dunia pendidikan, dunia yang dibutuhkan manusia yang dapat mengantarkan
pencerahan hidup dan kehidupannya.
A. Pendahuluan
Waktu
terus berjalan, pendidikan pun terus berkembang bersama hiruk pikuk hidup dan
kehidupan insan. Problem-problem pendidikan pun bermunculan begitu cepat
secepat cendawan tumbuh di musim hujan. Ilmu pendidikan bertanggungjawab untuk
memecahkan problem-problem tersebut, untuk itu tidaklah ringan tanggung jawab
yang diembannya karena begitu kompleks problem-problem yang ada di dunia
pendidikan. Tak jarang ilmu pendidikan pun meminta pertolongan pada pihak lain,
pihak filsafat pendidikan karena problem yang dihadapi berada di luar
kaplingnya dan sudah memasuki wilayah atau lingkaran hakikat. Manakala problem
pendidikan memasuki lingkaran yang substansial atau filosofis kiranya ilmu
pendidikan menyerahkan garapan itu pada filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan
akan menjawab secara filosofis atas pertanyaan filosofis yang muncul dari
belahan dunia pendidikan. Ontologi, epistemologi dan aksiologi akan menjadi
piranti meneropong belantara yang penuh pohon problem pendidikan, yang terus
tumbuh dari waktu ke waktu, dan tak pernah habis, kemudian filsafat pendidikan
menatanya rapi dan komprehensip. Lebih dari itu filsafat pendidikan menjadi
landasan pemikiran pendidikan yang melahirkan rumusan dasar-dasar atau
azas-azas pendidikan. Filsafat pendidikan juga memberi arah perjalanan kemajuan
pendidikan dan sekaligus mengoreksi kekurangannya guna mencapai tujuan
pendidikan yang dicita-citakan.
B. Pengertian Filsafat
Pendidikan
Menurut
A. Chaedar Alwasilah: Filsafat Pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat,
dan isi yang ideal dari pendidikan (Chaedar, 2008:101). Al-Syaibany: Filsafat
Pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat
sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan.
Hal senada dikatakan Hasan Langgulung: Filsafat Pendidikan adalah aktivitas
pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun
proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerapkan nilai-nilai
dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya (Jalaluddin, 2007:19,158). Sedang
George R. Knight mengatakan: Filsafat Pendidikan tidak berbeda dengan filsafat
umum, ia merupakan filsafat umum yang diterapkan pada pendidikan sebagai sebuah
filsafat spesifik dari usaha serius manusia (Knight, 2007:21). Sementara Imam
Barnadib mengatakan: Filsafat Pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya
merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan
(Barnadib, 1986:14). Berdasar pemikiran di atas dapat disimpulkan bahwa
filsafat pendidikan adalah ilmu yang membahas pendidikan secara filosofi, atau
ilmu yang membahas secara filosofi mengenai pendidikan.
C. Ruang Lingkup
Bahasan Filsafat Pendidikan
Pendidikan
yang menjadi sarana mencerdaskan dan mencerahkan manusia sangatlah luas lingkup
bahasannya, filsafat pendidikan pun tidak jauh berbeda lingkup bahasannya.
Lingkup bahasan atau obyek filsafat pendidikan sangat luas, seluas aspek
pendidikan dan aspek yang berkait. Semua aspek yang berhubungan dengan upaya
manusia untuk mengerti dan atau memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang
berhubungan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik, dan bagaimana tujuan
pendidikan dapat dicapai sesuai yang dicita-citakan (Jalaluddin, 2007:25).
Jelas kiranya bahwa lingkup bahasan filsafat pendidikan itu aspek-aspek yang
berhubungan dengan pendidikan, seperti: hakekat dasar, tujuan, isi dan
kebijakan serta penyelanggaraan pendidikan. Oleh karena itu bahasan filsafat
pendidikan sangatlah luas dan pelik.
D. Peranan dan Fungsi
Filsafat Pendidikan
1. Peranan Filsafat
Pendidikan
Tidak
dapat dinafikan setiap ilmu yang telah lahir di muka bumi tentulah memiliki
arti dan fungsi bagi kehidupan manusia. Begitu pula filsafat pendidikan suatu
ilmu yang memiliki peranan dan fungsi dalam kehidupan khususnya kehidupan dunia
pendidikan.
Menurut
Jalaluddin & Abdullah Idi peran filsafat pendidikan: 1) Landasan filosofis
yang menjiwai seluruh kebijakan dan pelaksanaan pendidikan; 2) Pemberi arah dan
pedoman bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh
bagi tegaknya sistem pendidikan. (Jalaluddin, 2007:29-33).
Filsafat
Pendidikan memiliki peranan yang penting karena filsafat pendidikan menjadi
landasan filosofis dan pemberi arah untuk usaha-usaha perbaikan, kemajuan dan
tetap eksisnya pendidikan. Tanpa landasan dan arahan, penyelenggaraan
pendidikan sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncanakan.
Landasan yang kuat sangat dperlukan bagi para pembangun bangunan pendidikan
selanjutnya agar bangunannya menjadi kokoh dan eksis selamanya.
2. Fungsi Filsafat
Pendidikan
Filsafat
pendidikan di samping memiliki peranan yang strategis, juga memiliki fungsi
yang penting dalam dunia pendidikan, dunia yang mampu merubah karakter manusia,
dan mendewasakan manusia, serta dunia yang memanusiakan manusia.
Fungsi
filsafat pendidikan sebagai berikut: 1) Merumuskan dasar-dasar dan tujuan
pendidikan, sifat dan hakikat manusia serta pendidikan, dan isi moral (sistem)
nilai pendidikan; 2) Merumuskan teori, bentuk, dan sistem pendidikan, mencakup
kepemimpinan, pendidikan, politik pendidikan, bahan pendidikan, metodologi
pendidikan dan pengajaran, pola-pola akulturasi serta peranan pendidikan dalam
pembangunan bangsa dan negara; 3) Merumuskan hubungan antara agama, filsafat,
filsafat pendidikan, teori pendidikan dan kebudayaan (Jalaluddin, 2007:159).
Filsafat
pendidikan memiliki fungsi merumuskan dasar dan tujuan pendidikan, merumuskan
teori, bentuk dan sistem pendidikan serta merumuskan hubungannya dengan agama
dan kebudayaan. Fungsi filsafat pendidikan sangat strategis karena merumuskan masalah-masalah
mendasar yang berkait dengan dunia pendidikan dan hubungannya dengan
pembangunan bangsa dan negara. Dasar dan tujuan pendidikan yang jelas akan
memudahkan dalam penyelenggaraan pendidikan, dan dapat menjadi parameter akan
tercapai tidaknya apa yang dicita-citakan.
E. Hubungan Filsafat
dengan Filsafat Pendidikan, Filsafat dengan Pendidikan, dan Filsafat Pendidikan
dengan Pendidikan
1. Hubungan Filsafat
dengan Filsafat Pendidikan
Manusia
yang memikirkan pendidikan, dan sekaligus manusia menjadi subyek pendidikan.
Pemikiran manusia yang mendalam dan sistematik akan melahirka suatu filsafat.
Dan Bila pendidikan menjadi obyek bahasannya lahirlah filasafat pendidikan
Dengan kata lain filsafat dengan filsafat pendidikan memiliki hubungan yang tidak
dapat dipisahkan; sebagaimana dikatakan Hasan Langgulung: Filsafat Pendidikan
adalah penerapan metode dan pandangan filsafat dalam bidang pengalaman manusia
yang disebuntukan pendidikan (Jalaluddin, 2007:31). Hal senada diungkapkan Imam
Barnadib: Filsafat Pendidikan ialah ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat
atau filsafat yang diterapkan dalam pemikiran dan pemecahan mengenai masalah
pendidikan (Barnadib, 1986:7). Sejalan pula dikatakan Kilpatrick: Berfilsafat
dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat berarti memikirkan
dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik. Sedangkan
pendidikan atau mendidik adalah suatu usaha merealisasikan nilai2 dan cita-cita
dalam kehidupan dan kepribadian manusia (Djumransyah, 2006:42). Begitu juga
dituturkan John Dewey: Filsafat merupakan teori umum, sebagai landasan dari
semua pemikiran umum mengenai pendidikan (Jalaluddin, 2007:31). Kiranya tampak
jelas bahwa Filsafat dan filsafat pendidikan memiliki hubungan erat yang tidak
dapat dipisahkan satu dengan lainnya, filsafat melandasi dan melatarbelakangi
lahirnya filsafat pendidikan.
2. Hubungan Filsafat
dengan Pendidikan
Menurut
George R. Knight: Pendidikan tidak dapat menghindari dunia metafisis, metafisis
kajian tentang realitas, adalah pusat bagi konsep apa pun dari pendidikan.
Kepercayaan metafisis yang berbeda membawa ke arah pendidikan yang berbeda
pula, bahkan memilahkan sisitem-sistem pendidikan. Sistem-sistem pendidikan
bersinggungan dengan pengetahuan, dan karena itu epistemologi merupakan
determinan utama paham-paham dan praktek-praktek pendidikan. Sementara E.F.
Sumacher: tanpa adanya penekanan ulang perhatian aksiologi, pendidikan akan
terbukti sebagai agen penghancuran daripada sebagai sumber pembangunan. Adapun
George R. Knight mengatakan: Konsep-konsep tentang realitas, kebenaran dan
nilai merupakan kandungan isi filsafat, oleh karenanya filsafat adalah kerangka
dasar yang melandasi praktik pendidikan. Hal senada dikatakan Samuel Shermi:
Semua isu-isu kependidikan pada puncaknya bersifat filosofis (Knight, 2007:
28-46,58,230). Kiranya dapat dipahami bahwa filsafat dan pendidikan memiliki
hubungan yang berkait, filsafat menjadi kerangka dasar yang melandasi praktik
pendidikan, dan pendidikan menjadi media aktualisasi konsep-konsep filsafat.
Pendidikan akan selalu berdialog dengan filsafat karena pendidikan yang terus
berkembang membutuhkan kerangka dasar atau konsep demi eksis dan majunya
pendidikan. Begitu pula sebaliknya filsafat akan bergandengan dengan pendidikan
karena pendidikan menjadi piranti dalam mengejawantahkan konsep-konsepnya.
3. Hubungan Filsafat
Pendidikan dengan Pendidikan
Filsafat
pendidikan merupakan landasan bagi pelaksanaan pendidikan yang terus berkembang
dinamis. Filsafat pendidikan merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh
kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan
disiplin ilmu yang merumuskan kaidah2 nilai yang akan dijadikan ukuran tingkah
laku manusia yang hidup ditengah-tengah masyarakat. (Jalaluddin, 2007:166,162).
Tidak jauh berbeda yang dikatakan John S. Brubacher: Terhadap filsafat, …
pendidikan itu harus menantikan suatu pola untuk bertindak. Sebaliknya
pemecahan masalah filsafat pendidikan sangat memerlukan suatu pendidikan
(Djumransyah, 2006:41). Filsafat pendidikan dan pendidikan memiliki hubungan
timbal-balik yang saling membangun dan menguntungkan untuk kemajuan dunia
pendidikan yang terus berkembang pesat; filsafat pendidikan sebagai landasan
filosofis, kaidah nilai dan pola pelaksanaan pendidikan, dan pendidikan menjadi
bahan pemecahan filsafat pendidikan.
F. Metode Studi dalam
Filsafat Pendidikan dan Pendekatannya.
1. Metode Studi dalam
Filsafat Pendidikan
Manusia
dalam mempelajari sesuatu tentulah memerlukan metode agar dapat mencapai tujuan
yang diinginkan. Begitu pula Filsafat Pendidikan dalam studinya menggunakan
metode: a) metode rasionalistik, b) metode empirik, c) metode intuisi, d)
metode reflektif, e) metode historis, dan f) metode analisis sintetis (Arifin,
2000:19-23), serta hermeneutika.
a. Rasionalistik
Rasionalistik,
suatu paham yang mengedepankan rasio. Sehingga paham ini dalam menganalisis
fenomena (alam) berpegang pada kemampuan akal pikiran belaka. Adapun
langkah-langkah berpikir rasionalitik sbb: 1). Tidak menerima begitu saja atas
sesuatu yang belum diakui kebenarannya; 2). Menganalisis dan mengklasifikasi
secara teliti; 3). Diawali sasaran yang paling sederhana dan mudah menuju yang
kompleks; 4). Tiap masalah dibuat uraian yang sempurna dan dilakukan pengkajian
kembali secara umum. Lankah-langkah tersebut dapat dipahmi bahwa untuk
mengambil suatu kesimpulan memerlukan analisis secara teliti dan seksama, dan
pengkajian ulang sehingga kecil kemungkinan terjadi bias.
b. Empirik
Metode
ini dalam menganalisis fenomena-fenomena yang ada berdasarkan pengalaman,
observasi dan penelitian/eksperimen. Pengalaman menjadi sesuatu yang utama,
baik yang dihasilkan melalui observasi, penelitian atau ekperimen. Rasio
menjadi pendukungnya dari pengalaman. Metode ini dikedepankan dalam dunia ilmu
pengetahuan yang dapat diuji kembali kebenerannya di lain waktu
c. Intuisi
Intuisi
memiliki kadar lebih tinggi dibanding intelek. Namun intuisi ini sulit untuk
dibuktikann secara empirik, sulit pula diukur. Sehingga sering disingkirkan
sebagai metode berpikir khususnya di dunia ilmu pengetahuan.
d. Reflektif
Reflektif:
suatu cara berfikir yang dimulai dari adanya problem-problem yang dihadapkan
kepadanya untuk dipecahkan. Problem-problem yang ada menjadi titik berangkat
pemikirannya, tanpa adanya problem-problem aktifitas refleksi pun sulit
dilakukan. Berdasar problem-problem yang dihadapi akan melahirkan hasil
pemecahannya. Perjalanan roda pendidikan selalu dihadapkan problem-problem yang
terus meneruak muncul karena pendidikan suatu yang terus berkembang. Dan
problem yang besar tidak lain adalah kenyataan.
e. Historis
Metode
ini pada problem-problem tertentu dapat digunakan utuk mengatasi problem yang
dihadapi secara wajar. Biasanya metode ini diawali dari suatu tesis kemudian
anti tesis, selanjutnya melahirkan sintesis.
f. Analitik-Sintetik
Suatu
metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran, dan
pemikirannya secara induktif dan deduktif serta analisa ilmiah.
Pemikiran induktif:
cara berpikir yang berdasar fakta-fakta yang bersifat khusus terlebih dahulu
dipakai untuk penarikan yang bersifat umum. Sedang deduktif: cara berpikir
dengan menggunakan premise-premis dari fakta yang bersifat umum menuju ke arah
yang bersifat khusus sebagai kesimpulannya. Pemikiran induktif dan deduktif
dapat digunakan dengan silih berganti, tergantung pada kesukaan dan
kecenderungan pola pikir penggunanya.
Contoh pemikiran Induktif,
Buku 1 besar dan tebal
adalah mahal
Buku 2 besar dan tebal
adalah mahal
Konklusi : semua buku
besar dan tebal adalah mahal
Contoh pemikiran
Deduktif,
Premis mayor: Semua
buku besar dan tebal adalah mahal
Premis minor : Buku 3
adalah besar dan tebal
Konklusi : buku 3
adalah mahal
Sementara
Analitik-sintetik: Mengurai sasaran-sasaran pemikiran filosofis sampai unsur
sekecil-kecilnya, kemudian memadukan kembali unsur-unsur sebagai kesimpulan
hasil studi. Pemikiran analitik sintetik ini merupakan hasil paduan unsur-unsur
baik yang dilakukan secara analitik maupun sintetik.
g. Analisis Bahasa dan
Analisis Konsep
Analisis
bahasa, usaha untuk mengetahui arti sesungguhnya dari sesuatu atau usaha untuk
mengadakan interpretasi pendapat atau pendapat mengenai makna yang dimiliknya.
Analisis konsep, Analisis kata-kata atau istilah-istilah yang menjadi kunci
pokok yang mewakili suatu gagasan atau konsep. Analisis bahasa itu memberi
interpretasi dari sesuatu pendapat, sedang analisis konsep mengurai kata kunci
yang menjadi sample konsep.
h. Hermeneutika
Selain
metode tersebut di atas, hermeneutika (takwil) dapat menjadi metode pemikiran
dalam studi filsafat pendidikan karena melalui hermeneutika ini memungkinkan
pengetahuan yang mendasar dapat diperoleh. Pengikut hermeneutika dalam
mempelajari perilaku manusia mecari perspektif yang memungkinkan diperolehnya
pengetahuan yang paling mendasar. Takwil bukan sekedar teknik penelitian atau
alat pengetahuan atau jalan menuju kebenaran, melainkan takwil adalah bidang
pemahaman yang memungkinkan untuk mengkaji wujud secara baru dan memungkinkan
untuk mendefinisikan kembali tentang sesuatu (Alwasilah, 2008:125,127).
Hermeneutik suatu alat atau metode pengkajian untuk mendapatkan pemahaman
pengetahuan atau kebenaran.
Metode-metode tersebut
tidak selalu pas/relevan dan dapat digunakan disetiap obyek kajian. Untuk itu
penggunaan metode harus mempertimbangkan relevansi bahan yang menjadi obyek
pengkajian, penemuan atau pengembangan pendidikan, sehingga akan menghasilkan
kesimpulan yang benar dan tidak bias.
2. Pendekatan Filsafat
Pendidikan
Pendekatan
filsafat pendidikan dalam melakukan studinya, yaitu: 1) ajaran filsafat/aliran
filsafat tertentu, dan 2) Pendidikan. Filsafat pendidikan dalam melakukan
studinya akan merujuk pada ajaran filsafat, dan pendidikan. Untuk paham
filsafat di antarnya seperti idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme,
eksistensialisme dan fenomenologi, sedang ajaran pendidikan seperti nativisme,
empirisme dan konfergensi.
H. Aspek Ontologi,
Epistemologi dan Aksiologi Pendidikan
1. Aspek Ontlogi
Pendidikan
Pendidikan
dalam hubungannya dengan asal usul, eksistensi dan tujuan hidup manusia;
pendidikan suatu proses menumbuhkembangkan, dan membimbing (berkesinambungan)
potensi manusia. Sasarannya menumbuhkan kesadaran atas eksistensi manusia yang
berasal-usul dan bertujuan, sehingga membuahkan “kecerdasan spritual”.
Kecerdasan spiritual dijadikan fondasi eksistensi manusia agar berlangsung
dalam dinamika perkembangan secara konstan berdasarkan kesadaran mendalam
tentang hakikat asal usul dan tujuan kehidupnnya. Ontologi Pendidikan menurut
Tingkat Keberadaan: 1) Esensi abstrak pendidikan; 2) Esensi potensial
pendidikan; dan 3) Esensi konkrit pendidikan (Suhartono, 2007: 112-114). Esensi
abstrak pendidikan bernilai universal artinya mutlak adanya dan berlaku bagi
manusia siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Sasarannya pemanusiaan manusia.
Esensi potensial pendidikan, Pendidikan: suatu daya yang mampu membuat manusia
berada di dalam kepribadiannya sebagai manusia, bukan makhluk lain. Pendidikan
menumbuhkembangkan “kecerdasan inteligensia”. Eseensi konkrit pendidikan,
Pendidikan: suatu daya yang mampu membuat setiap manusia individu berkesadaran
utuh terhadap hakikat keberadaanya berdasar nilai asal usul dan tujuan
kehidupannya. Berdasar kecerdasan spritual dan kecerdasan intelektual, hakikat
konkrit pendidikan menekankan pada “kecerdasan emosional” yaitu kemampuan
individu dalam mengendalikan perilakunya agar senantiasa sesuai dengan nilai
asal usul dan tujuan kehidupan. Potensi manusia ditumbuhkan secara seimbang dan
terpadu agar spirit manusia semakin cerdas. Manusia yang eksis dalam kecerdasan
spiritualnya cenderung berwawasan luas dan mendalam, yang membuka untuk
memasuki dunia transenden.
2. Aspek Epistemologi
Pendidikan
Kebenaran
pendidikan menunjuk pada output atau hasil dari sebuah rangkaian
penyelenggaraan pendidikan. Kebenaran pendidikan dapat diukur menurut standar
keilmuan, yaitu keterpaduan antara (kebenaran) bentuk dan (kebenaran) materi.
Jika bentuk dan materi terpadu utuh, pendidikan benar adanya. Kebenaran bentuk
diukur dengan keberhasilan menyelesaikan jenjang pendidikan formal, sedang
kebenaran materi diukur sejauh mana di dalam diri seorang individu tumbuh
potensi ilmu pengetahuan. Tujuan pendidikan “kecerdasan intelektual” (Suhartono,
2007: 129). Kecerdasan intelektual ini berupa, kreativitas, kecakapan dan
ketrampilan, yang sumbernya kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah menjadi landasan
terbentuknya watak dan sikap ilmiah. Sikap yang memandang dan menilai sesuai
dengan kacamatanya, sehingga tidak ada penafsiran manipulative pada obyek.
3. Aspek Aksiologi
(Etika) Pendidikan
Aksiologi
(etika) pendidikan, sasaran utamanya menumbuhkan nilai kebaikan dalam perilaku
manusia sehingga menjadi matang dan cerdas (kecerdasan emosional). Kecerdasan
emosional adalah perlaku yang mengandung kebenaran, dan syarat dengan
kebijaksanaan. Kecerdasan emosional adalah sebuah perilaku yang dibangun
menurut dasar ontologi dan epistemologi pendidikan (Suhartono, 2007: 140).
Kecerdasan spiritual menjadi basis dari kecerdasan intelegensi dan kecerdasan
emosional. Tanggung jawab pencerdasan emosioanal selain keluarga, institusi
pendidikan, juga masayakat. Masyarakat merupakan keseluruhan entitas social
sehingga memiliki peran sentral dalam pencerdasan emosional. Meskipun ketiga
komponen tersebut bertanggung jawab atas pencerdasan emosional tapi pada
hakekatnya pencerdasan emosional berada pada individu masing-masing, yang
merupakan makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan.
I. Aliran-aliran atau Mazhab-mazhab
Filsafat Pendidikan
Aliran-aliran
atau mazhab-mazhab filsafat pendidikan yang akan diusung di sini yakni,
idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, progresivisme, esensialisme,
perenialisme, eksistensialisme, rekonstruksionisme, dan konstruktivisme.
1. Idealisme
Idealisme,
memandang bahwa realitas akhir itu roh bukan materia atau bukan pisik.Dunia
kenyataan merupakan manifestasi dari realitas. Hakikat manusia adalah jiwanya,
rohaninya; yang menggerakan semua aktivitas manusia. Sementara memandang
pengetahuan yang benar itu hasil akal belaka. Dan manusia dapat memperoleh
kebenaran sejati dan pengetahuan realitas karena realitas hakikatnya spiritual.
Sedang nilai bagi paham ini dikatakan nilai itu tetapn nilai tidak dicipta
manusia, melainkan bagian dari alam semesta.
Pendidikan dalam
pandangan idealisme merupakan proses abadi dari proses penyesuaian dan
perkembangan mental maupun pisik, bebas dan sadar terhadap Tuhan,
dimanisfestasikan dalam lingkungan intelektual, emosional, dan berkemauan.
Pendidikan merupakan pertumbuhan ke arah tujuan, yaitu pribadi manusia yang
ideal (Sadullah, 2007:101). Mengenai kurikulum, pendidikan liberal untuk
pengembangan rasional dan pendidikan praktis. Adapun mengenai pembelajaran,
Guru harus memandang peserta didik sebagai tujuan bukan alat. Guru harus
membimbing, dan mengajarkan nilai-nilai yang tetap, abadi dan pelaksanaannya
harus bersesuaian dengan pencipta alam semesta. Sehingga peserta didik mampu
mencapai dunia cita, dan menikmati kehidupan abadi.
2. Realisme
Realisme
memandang bahwa realitas itu terdiri dari dunia pisik dan dunia rohani. Dunia
materi adalah nyata dan berada di luar pikiran. Akal menjadi piranti manusia
untuk mengenal dunia, dan menjangkau kebenaran umum. Realisme (klasik)
berpandangan pengetahuan yang benar berada di dalam pengetahuan atau kebenaran
itu sendiri. Untuk pengetahuan tentang Tuhan tidak perlu dibuktikan karena
Tuhan selef evident. Sementara mengenai pendidikan, tujuan pendidikan bersifat
intelektual. Intelektual bukan sekedar tujuan tetapi juga merupakan alat untuk
memecahkan problem-problem yang dihadapi manusia. Sedang untuk materi
pendidikan yang esensi adalah pengalaman manusia; yang esensi itu sesuatu hasil
penyatuan dan pengulangan pengalaman manusia. Adapun tentang sekeolah, di
Sekolah harus menekankan perhatian pada pelajaran, dan diajarkan moral yang
absolut dan universal. Sekolah pun harus menghasilkan individu-individu yang
sempurna; manusia yang moderat yang mengambil jalan tengah. Jalan tengah ini
akan menghasilkan manusia bijaksana dan menjunjung kebenaran.
3. Materialisme
Materi
merupakan hakikat yang nyata. Rohani, spritual atau supranatural bukalah
sesuatu yang nyata adanya. Yang ada hanyalah materi, tak ada alam rohani atau
alam spiritual. Kepercayaan pada Tuhan merupakan proyeksi kegagalan dan
ketidakpuasan manusia mencapai apa yang diinginkan dalam hidup dan
kehidupannya. Tuhan hanyalah hasil hayalan manusia, Tuhan dicipta manusia. Oleh
karenanya tidak ada gunanya berusaha mencapai pengetahuan yang mutlak karena
yang mutlak pada hakikatnya tidak ada. Pendidikan merupakan proses
kondisionisasi lingkungan (Sadullah, 2007:116). Tujuan pendidikan adalah
perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kemampuannya untuk
bertanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks. Adapun untuk
kurikulum, isi pendidikan mencakup pengetahuan yang handal, dan berhubungan
dengan perilaku. Pendidik memiliki kekuasaan untuk merancang dan mengontrol
proses atau jalannya roda pendidikan. Sermentara peserta didik tidak punya
kebebasan dalam proses pembelajaran; yang dilaksanakan dengan metode
kondisionisasi. Kiranya dapat dipahami bahwa perubahan perilaku menjadi titik
perhatian paham materialisme.
4. Pragmatisme
Paham
ini memandang bahwa realita merupakan interaksi antara manusia dan
lingkungannya. Manusia sebagai makhluk pisik hasil evolusi biologis, sosial dan
psikologis. Manusia hakikatnya plastis dan dapat berubah Sedang pengetahuan
sebagi transaksi manusia dengan lingkungannya, dan kebenaran merupakan bagian dar
pengetahuan. Nilai sesuatu yang relatif, selalu berubah, tidak tetap. Mengenai
pendidikan, paham ini berpandangan bahwa pendidikan merupakan suatu proses
reorganisasi dan rekontruksi dari pengalaman-pengalaman individu (Sadullah,
2007: 125). Pembentukan pribadi anak merupakan proses menata dan mebangun
kembali pengalaman-pengalaman anak, bukan proses pembentukan dari luar dan
bukan pemerkahan potensi diri. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri bukan
persiapan untuk kehidupan. Tujuan pendidikan adalah suatu kehidupan yang baik.
Oleh karena pelajaran yang diberikan harus didasarkan fakta-fakta yang sudah
diobservasi, dipahami dan dibicarakan. Dan kurikulumnya, setiap pelajaran
merupakan suatu kesatuan, perpaduan antara pengalaman di sekolah dan luar sekolah.
Pendidik di sini hanya sebagai fasilitator dan memberi dorongan pada peserta
didik hingga dapat berpikir ilmiah dan logis.
5. Progresivisme
Progresivisme,
memandang realita (dunia) suatu proses atau tata di mana manusia hidup di
dalamnya. Pengalaman sebagai ciri dinamika hidup, dan hidup itu perjuangan,
tindakan dan perbuatan. Pengalaman sebagai kunci terhadap segala yang ada,
menjadi piranti untuk mengetahui realita. Sementara memandang pengetahuan
sebagai kumpulan kesan-kesan dan penerangan-penerangan, proses kebiasaan yang
dihimpun dari proses inderawi dan pengalaman, yang siap untuk digunakan. Adapun
kebenaran merupakan hasil tertentu dari usaha untuk mengetahui, memiliki dan
mengarahkan beberapa segmen pengetahuan agar dapat menimbulkan petunjuk atau
penyelesaian pada situasi tertentu yang mungkin keadaannya kacau. Sedangkan
nilai bagi paham ini dikatakan ada bila menunjukkan adanya kecocokan dengan
hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan. Nilai bersifat dinamis,
nilai terus berubah dan berkembang.
Progresivisme
memandang manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang wajar, dapat menghadapi dan
mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia
itu sendiri. Sedang tugas utama pendidikan: mempertinggi kecerdasan, kecerdasan
memiliki peran utama dan menentukan perkembangan anak didik. Adapun belajar
dimaknai anak didik memiliki akal dan kecerdasan sebagai potensi kelebihan.
Anak didik dapat menghayati belajar yang edukatif dan bukan yang misedukatif.
Anak didik aktif dan tidak pasif. Sedang guru hanyalah sebagai penasehat,
paemandu dan pengarah. Sementara mengenai kurikulum, kurikulum “berpusat pada
pengalaman”, bersifat ekperimental, isinya harus berfungsi sebagai pengalaman
yang edukatif. Sikap yang dimilikinya berazazkan fleksibilitas dan dinamis
dalam memandang segala sesuatu yang ada. Sekolah dalam pandangan paham yang
bersifat evolusi ini sekolah merupakan sebuah dunia kecil masyarakat besar, dan
atmosfer sosial sekolahnya harus kooperatif dan demokratis.
6. Esensialisme
Esensealisme
memandang realita, dunia dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur
dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Sedang pengetahuan berdasar
kualitas dirinya (yang sadar akan realitas sebagai mikrokosmos dan makrokosmos)
manusia memproduksi pengetahuannya. Adapun nilai memiliki pembawaan atas dasar
komposisi yang ada; Nilai tergantung dari apa atau bagaimana keadaan subyek.
Sementara pandangan paham yang sifatnya konservatif ini pendidikan haruslah
bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kesetabilan (nilai2
kebudayaan dan filsafat zaman Renaisans). Pendidikan merupakan proses
reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Tujuan pendidikan
adalah meneruskan warisan budaya dan sejarah serta mempersiapkan manusia untuk
hidup. Tugas pertama sekolah adalah mengajarkan pengetahuan dasariah. Mengenai
belajar sebagai aktifitas menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh
nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi,
serta diteruskan kepada angkatan berikutnya. Untuk guru dianggap orang yang
menguasai subyek khusus, dan merupakan contoh model yang harus dgugu dan
ditiru. Sedang kurikulum, kurikilum berpangkal pada landasan idiil dan
organisasi yang kuat; dan kurikulum bersumber pada intelek, emosi dan kemauan
sehingga kurikulum mencakup tiga domain, domain kognitif, domain afektif dan
domain psikomotorik.
7. Perenialisme
Perenialisme
memandang realita tertinggi berada di balik alam, bersifat penuh kedamaian.
Realita yang ada merupakan kombinasi potensi dan bentuk, yang datang bersama
untuk adanya. Pengertian-pengertian sesuatu yang ada dalam realita memiliki
perbedaan dalam aspek-aspek aktualisasinya. Menurut paham ini untuk pengetahuan
bersifat analitis empiris, diperoleh dengan metode induktif, dan kebenarannya
relatif dan terbatas. Kebenaran sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara
pikiran dengan benda/hal. Sementara tentang nilai berdasarkan azas
supernatural, menerima universal yang Abadi. Tuhan adalah sumber nilai; nilai
bersifat teologis. Oleh karenanya pendidikan harus menyesuaikan individu dengan
kebenaran, bukan menyesuaikan individu dengan dunia. Pendidikan bukan peniruan
dari hidup melainkan suatu persiapan untuk hidup. Tujuan pendidikan yaitu
mengembangkan akal budinya dan mewujudkan anak dapat hidup bahagia demi
kebaikaan hidupnya sendiri. Dan tugas utama pendidikan mempersiapkan ke arah
kematangan (akal), untuk menyerap dan memahami kebenaran-kebenaran abadi dan
esensial. Sedang sekolah sebagai tempatnya dengan memberikan pengetahuan. Tugas
utama guru memberikan pendidikan dan pengajaran, dan keberhasilan anak (segi
akalnya) tergantung pada guru, dan guru harus mampu mengatasi gangguan dengan
pendekatan intelektual yang sama bagi semua peserta didik. Tuhan menjadi titik sentral
dan nilai-nilai ketuhanan sebagai kebenaran menjadi dasar dalam proses
pendidikan. Perenialisme paham yang bersifat regresif memandang manusia adalah
hewan rasional. Hakikat watak dasar manusia secara universal tidak berubah,
untuk itu pendidikan harus sama untuk setiap orang, dan pengalaman pendidikan
merupakan persiapan untuk hidup. Karya besar masa lampau sebagai gudang
pengetahuan dan kebijaksanaan yang telah teruji waktu dan relevan dengan masa
kini. Dengan kata lain pendidikan masa kini harus merujuk pada masa lampau yang
telah teruji oleh waktu.
8. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme,
salah satu paham yang memandang realita sesuatu yang bersifat universal, ada di
mana-mana, alam ini mengandung hakikat materi dan rohani, yang berdiri sendiri-sendiri,
azali dan abadi. Sedang mengenai pengetahuan, pengetahuan itu dihasilkan
melalui rasio dan pengalaman. Adapun tentang bukti kebenaran ada pada diri
sendiri, realita dan keberadaannya. Untuk masalah nilai berdasar azas
supernatural (menerima natural yang universal, yang abadi, berdasar
prinsip-prinsip teologis). Rekonstruksionisme memandang sekolah sebagai agen
utama dalam rekonstruksi tatanan sosial, sumber inovasi sosial. Metode-metode
pengajarannya harus didasarkan pada prinsip demokrasi yang bertumpu pada
kecerdasan azali. Sedang untuk landasan kurikulumnya pada ilmu-ilmu sosial.
Rekonstruksi paham yang sifatnya radikal ini ingin membangun kembali pendidikan
yang medasarkan prinsip-prinsip keabadian atau keilahian, hal ini dkarenakan
masyarakat dunia dalam kondisi yang sakit kritis dan bila tidak segera diubah
secara mendasar peradaban dunia akan mengalami kehancuran. Dan pendidikan
formal menjadi agen dalam rekonstruksi tatanan yang mendunia, sehingga
peradaban dunia akan selamat dan terus eksis.
9. Eksistensialisme
Eksistensialisme
berpandangan bahwa realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk
menggambarkan realitas, kita harus melihat apa yang ada dalam diri kita
sendiri. Pengetahuan tergantung pada pemahaman dan interpretasi manusia terhadap
realitas. Untuk nilai, manusia memiliki kebebasan untuk memilih.
Eksistensialisme sebagai paham yang bersifat liberal, memandang individu
sebagai makhluk unik dan bertanggung jawab atas keunikannya. Pendidikan hanya
dilakukan manusia, dan memiliki tujuan mendorong individu mampu mengembangkan
semua potensi untuk pemenuhan diri. Memberi bekal pengalaman yang luas dan
komprehensif dalam semua bentuk kehidupan. Adapun proses belajar mengajar,
pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan – ”Dialog”. Dan metode yang
dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang
baik. Mengenai kurikulum, kuruklum yang memberikan para peserta didik kebebasan
individual yang luas. Begitu pula guru harus memberi kebebasan peserta didik memilih
dan memberi pengalaman yang akan menemukan makna dari kehidupan mereka sendiri,
namun guru pun harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik dengan
seksama.
10. Konstruktivisme
Von
Glaserfeld menuturkan, Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan
yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri
(Suparno, 2012:18). Sementara menurut Doolitle dan Camp (1999) inti dari
konstruktivisme adalah aktif memahami dan membangun pengetahuan sendiri
berdasar pengalamannya. Fosnot menyatakan konsep bahwa peserta didik membangun
pengetahuan berdasar pengalaman dinamakan konstruktivisme. Pengetahuan bukanlah
kenyataan ontologis. Kita tidak dapat mengerti realitas (kenyataan) yang
sesungguhnya. Yang kita mengerti, bila boleh disebut suatu realitas, adalah
sktruktur konstruksi kita akan suatu objek. Realitas hanya ada sejauh
berhubungan dengan pengamat. Pengetahuan merupakan konstruksi dari kita yang
mengetahui, yang sedang belajar. Realitas tidak akan eksis selama berdiri sendiri,
realitas akan dipahami ada bila berhubungan dengan pengamat.
Pengetahuan bukanlah
sesuatu yang sudah tertentu tetapi merupakan suatu proses menjadi. Letak
kebenaran dari pengetahuan dalam riabilitasnya, yaitu berlakunya konsep atau
pengetahuan itu dalam penggunaan. Semakin dalam dan luas suatu pengetahuan
dapat digunakan, semakin luas kebenarannya. Jean Piaget menyatakan bahwa
pengetahuan konseptual tidak dapat ditransfer dari seseorang ke orang lainnya,
melainkan harus dikonstruksi oleh setiap orang berdasar pengalaman mereka
sendiri. Menurut von Glaserfeld, pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat
dipindahkan dari pikiran seseorang yang mempunyai pengetahuan (guru) ke pikiran
orang yang belum punya pengetahuan (peserta didik). Bahkan bila guru bermaksud
untuk mentransfer konsep, ide dan pengertiannya kepada peserta didik,
pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh peserta didik
sendiri dengan pengalaman mereka (Suparno, 2012:20).
Von Glaserfeld
membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan hubungan pengetahuan dan
kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan
konstruktivisme yang biasa (Suparno, 2012:25). Konstruktivisme radikal,
pengetahuan adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu obyek yang
dibentuk oleh seseorang. Mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan
kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Kita hanya tahu apa yang dikonstruksi
oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi kenyataan. Realisme
hipotesis, pengetahuan sebagai suatu hypotesis dari suatu struktur kenyataan
dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan
realitas. Konstruktivisme yang biasa, pengetahuan sebagai suatu gambaran yang
dibentuk dari kenyataan suatu objek.
Von Glaserfeld
menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk proses pembentukan
pengetahuan itu, seperti (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali
pengalaman, (2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan
dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang
satu daripada yang lain (Suparno, 2012:20). Pembentukan pengetahuan bukanlah
memiliki kebebasan tanpa batas melainkan terdapat pembatas yang mebingkai
pembentukan pengetahuan tersebut. Bettencourt menyebutkan beberapa hal yang
dapat membatasi proses konstruksi pengetahuan, yaitu (1) konstruksi yang lama,
(2) domain pengalaman kita, dan (3) jaringan struktur kognitif kita (Suparno,
2012:22). Belajar: peran peserta didik diutamakan dan keaktifan peserta didik
untuk membentuk pengetahuan dinomorsatukan. Pelajar aktif membina pengetahuan
berasaskan pengalaman yang sudah ada, dengan cara membandingkan informasi baru
dengan pemahamannya yang sudah ada. Bahan pengajaran perlu mempunyai perkaitan
dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar. Paham yang memiliki
sifat generatif ini memandang manusia dapat mengetahui sesuatu dengan
inderanya. Pengetahuan bukan sesuatu kenyataan ontologis, dan tidak dapat
ditransfer, melainkan pemindahan pengetahuan harus dinterpretasikan dan
dikonstruksi oleh setiap orang berdasar pengalaman yang dimikili mereka
sendiri. Pembentukan pengetahuan pun bukan tanpa batas melainkan memiliki
pembatas yang menjadi bingkai pemebentukan pengetahuan.
J. Kesimpulan
Filsafat
Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari atau membahas pendidikan secara
filosofis. Filsafat dan filsafat pendidikan memiliki hubungan erat yang tidak
dapat dipisahkan satu dengan lainnya, filsafat melandasi dan melatarbelakangi
lahirnya filsafat pendidikan. Senada juga filsafat dan pendidikan memiliki
hubungan yang berkait, filsafat menjadi kerangka dasar yang melandasi praktik
pendidikan, dan pendidikan menjadi media aktualisasi konsep-konsep filsafat.
Demikian pula filsafat pendidikan dan pendidikan memiliki hubungan timbal-balik
yang saling membangun dan menguntungkan untuk kemajuan dunia pendidikan yang
terus berkembang pesat; filsafat pendidikan sebagai landasan filosofis, kaidah
nilai dan pola pelaksanaan pendidikan, dan pendidikan menjadi bahan pemecahan
filsafat pendidikan.
Filsafat pendidikan
dalam studinya menggunakan metode: a) metode rasionalistik, b) metode empirik,
c) metode intuisi, d) metode reflektif, e) metode historis, dan f) metode
analisis sintetis, serta g) hermeneutika. Sedang dalam pendekatannya dengan
pendekatan ajaran filsafat dan ajaran pendidikan. Sementara dalam melihat segi
keberadaan, proses dan nilai pendidikan dengan melihat aspek ontologi,
epistemologi dan aksiologi. Adapun aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam filsafat
pendidikan, yaitu idealisme, realisme, pragmatisme, materialisme,
progresivisme, esensialisme, perenialisme, eksistensialisme,
rekonstruksionisme, dan konstruktivisme. Aliran-aliran ini memiliki kacamatanya
sendiri, kacamata yang berbeda dalam memandang dunia pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA (REFERENSI)
- Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Arifin, H.M. 2000. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Ankara
- Barnadib, Imam. 1986. Filsafat Pendidika, Sutu Tinjauan. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta.
- Barnadib, Imam. 1987. Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta.
- Djumransyah, M. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia.
- Jalaluddin & Abdullah Idi. 2007. Filsafat Pendidikan, Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
- Knight, George R. 2007. Filsafat Pendidikan. Penerjemah Mahmud Arif. Yogyakarta: Gama Media.
- Sadullah, Uyoh. 2007. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
- Suhartono, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
- Suparno, Paul. 2012. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
- http://humanioras.blogspot.com/2013/04/filsafat-pendidikan.html
No comments:
Post a Comment